Awal Mula Keberadaan Angkringan

LKP Bina Mutu Bangsa saat ini sedang menjalankan program Pendidikan Kecakapan Wirausaha atau PKW 2021 yang terselenggara berkat bantuan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Riset Teknologi atau disingkat Kemendikbudristek.

Wajah baru menyelimuti PKW 2021, kaitannya adalah peserta bebas untuk memilih (by request) kepada para instruktur mengenai produk makanan atau minuman yang ingin mereka pelajari cara membuatnya untuk dikembangkan menjadi usaha.

Maksud dan tujuan program PKW sendiri adalah dapat mencetak wirausahawan muda dengan dukungan dari UMKM dan UKM sekitar, diharapkan nantinya dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana peserta tersebut. Biasanya peserta program PKW memilih untuk menyajikan produk makanan dan minuman yang tengah booming keberadaannya ditengah masyarakat.

Peserta dapat mengolah makanan dan minuman yang berasal dari luar seperti makanan khas timur tengah atau bergaya western dengan sedikit sentuhan modifikasi. Tampilan makanan dan minuman kekinian sangat menggiurkan bagi siapapun yang melihatnya, ini menandakan bahwa mereka memiliki jiwa kewirausahaan serta kreatif.

Peserta PKW kelompok 3 sedang foto bersama | Doc. Bina Mutu Bangsa

Tetapi kali ini keunikan yang belum pernah dilihat sebelumnya tertuju pada salah satu peserta PKW yaitu mempelajari pengembangan usaha angkringan. Angkringan merupakan suatu usaha yang menjajakan berbagai makanan sebut saja nasi kucing, sate usus, tempe goreng, tahu bacem dan lain-lain. Ciri khas angkringan adalah menggunakan gerobak dan diatasnya langsung disajikan makanan-makanan tersebut.

Angkringan bahkan sampai saat ini menjadi salah satu jenis usaha yang masif penyebarannya, tidak hanya di kota seperti Solo maupun Yogyakarta saja, tapi angkringan dapat kalian temukan keberadaannya di ibukota Jakarta.

Lantas, apakah kalian mengetahui bagaimana pertama kali terciptanya angkringan? Siapa pencetus angkringan untuk pertama kali? Kita akan kulik ceritanya dibawah ini.

Angkringan berasal dari Desa Ngerangan Klaten

Desa Ngerangan, tempat asal Mbah Karso pencipta angkringan | source : kompas.com (Doc/Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan)

Gunadi dan Suwarna selaku founder ikon ‘Desa Cikal Bakal Angkringan’ mengungkapkan bahwa angkringan diciptakan oleh Eyang Karso Dikromo. Lahirnya angkringan tidak lepas dari sebuah inovasi oleh Eyang Karso Dikromo yang akrab disapa Jukut. Mbah Karso berasal dari Desa Ngerangan, Klaten Jawa Tengah. Pada tahun 1930-an, di usia sekitar 15 tahun, Mbah Karso memutuskan untuk menetap di Kota Solo.

Awal Mula Berdirinya Angkringan

Mbah Karso bersama Istrinya | source : kompas.com (Doc/Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan)

Pindah ke Kota Solo, Mbah Karso kemudian bertemu dengan Mbah Wono. Dibawah Mbah Wono, Mbah Karso bekerja sebagai penggembala kerbau dan membajak sawah. Mbah Karso juga berkenalan dengan seorang penjual makanan terikan (makanan dari Jawa Tengah dengan kuah kental dan lauk tempe atau daging). Di momen yang bersamaan, Mbah Karso ditawari ikut berjualan terikan dengan modal pikulan tumbu (alat untuk berjualan makanan).

Ikut berjualan terikan pada 1943, Mbah Karso kemudian memiliki ide untuk menjual minuman. Tujuannya agar pembeli bisa melegakan dahaga saat makan.  Dari ide tersebut Mbah Karso sedikit memodifikasi pikulan jualannya. Bagian depannya untuk makanan, bagian belakang untuk ceret minuman.

Dahulu yang hanya terikan ditambah juga makanannya seperti jadah bakar, singkong, getuk, kacang, dan aneka sate yang ada sampai sekarang. Macam-macam lauk dimasukkan dalam wadah dari daun pisang yang disebut takir. Selain aneka lauk, ditambah juga nasi kucing. Kehadirann nasi kucing ini malah berhasil menggeser pamor terikan, inilah awal mula nasi kucing di angkringan.

Penyebaran Angkringan

Macam-macam makanan yang disajikan di Angkringan | source : www.bisniswisata.co.id

Di Kota Solo, angkringan dikenal dengan sebutan HIK (hidangan istimewa kampung). Di Yogyakarta, ada beberapa sebutan lain untuk angkringan, seperti wedangan, warung koboi, dan sego kucing (nasi kucing).

Banyaknya pendatang di Yogyakarta, membuat angkringan berekspansi ke luar Solo dan Yogyakarta. Hal ini terjadi era 1990-an hingga kini. Perkembangan angkringan tidak hanya di Indonesia, karena menurut Gunadi dan Suwarna ada beberapa mahasiswa dari Yogyakarta menjual angkringan di Jepang, Amerika Serikat, dan Swedia. Pada 26 Februari 2020, Desa Ngerangan resmi menjadi ‘Desa Cikal Bakal Angkringan’.

Begitulah beberapa fakta tentang angkringan. Kita harus senantiasa mendukung usaha tersebut, karena angkringan merupakan salah satu jenis UMKM yang menjadi ‘juru selamat’ di kala pandemi dan eksistensinya yang makin dikenal luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Halo Selamat Datang di Bina Mutu Bangsa! Ada yang bisa kami bantu?^_^
Powered by