Panggung dan peran dalam public speaking tidak hanya berkaitan dengan keberanian berbicara di depan banyak orang. Cara membawa diri, mengatur suara, menggunakan bahasa tubuh, membangun interaksi, hingga memahami peran dalam sebuah forum turut menentukan bagaimana pesan diterima audiens.
Hal tersebut menjadi bagian dari pelatihan public speaking yang diselenggarakan Bina Mutu Bangsa untuk staf Tanoto Foundation pada Jumat, 25 September 2026. Kegiatan berlangsung di kantor Tanoto Foundation, Jl. M.H. Thamrin No. 31, Jakarta 10230, dan diikuti sekitar 25–30 peserta yang telah dipilih oleh Tanoto Foundation.
Pelatihan difasilitasi oleh tiga trainer dari Bina Mutu Bangsa. Berbeda dari pelatihan yang hanya berisi penyampaian materi, kegiatan berlangsung secara aktif melalui diskusi, challenge, latihan, dan beberapa role play. Peserta juga terlibat dalam proses praktik untuk mencoba langsung cara menyampaikan pesan dalam situasi komunikasi yang berbeda.

Mengapa Pelatihan Public Speaking Dibutuhkan?
Kebutuhan pelatihan berangkat dari pentingnya kemampuan peserta dalam menjelaskan tujuan dan program organisasi secara terstruktur. Berdasarkan evaluasi sebelumnya, masih terdapat peserta yang belum dapat menjelaskan tujuan organisasi dengan baik.
Selain itu, penyampaian informasi oleh sebagian peserta masih cenderung satu arah, kaku, dan kurang interaktif. Padahal, dalam pekerjaan sehari-hari, peserta dapat berkomunikasi dengan rekan kerja, mitra, pemerintah, kementerian, media, auditor, klien, maupun organisasi lainnya.
Karena itu, kemampuan berbicara perlu disesuaikan dengan situasi dan siapa yang menjadi audiens. Seorang presenter membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan moderator. Begitu pula panelis dan Subject Matter Expert memiliki fungsi yang berbeda dalam sebuah diskusi.
Panggung dan Peran: Tidak Semua Pembicara Memiliki Tugas yang Sama
Salah satu materi dalam pelatihan adalah Panggung dan Peran. Materi ini menempatkan public speaking sebagai keterampilan yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana seseorang menjalankan fungsi komunikasinya dalam sebuah forum.
Dalam diskusi panel, terdapat empat peran yang memiliki fungsi berbeda, yaitu presenter, moderator, panelis, dan Subject Matter Expert (SME).
Presenter bertugas menyampaikan pembukaan, tujuan diskusi, serta memperkenalkan panelis kepada audiens. Sementara itu, moderator mengatur jalannya diskusi, mengajukan pertanyaan, mengatur waktu, dan menjaga pembahasan tetap fokus serta inklusif.
Panelis memiliki ruang untuk memberikan pandangan, pengalaman, dan solusi berdasarkan perspektifnya. Adapun SME memberikan wawasan yang lebih mendalam berdasarkan keahlian, data, atau penjelasan teknis.
Dengan pembagian tersebut, setiap orang tidak perlu mengambil alih seluruh pembicaraan. Sebaliknya, setiap peran saling melengkapi agar diskusi berjalan terarah dan memiliki tujuan yang jelas.
Panggung dan Peran dalam Bahasa Tubuh
Sebelum berbicara, kesiapan tubuh menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Dalam materi pelatihan, peserta diajak menyiapkan postur, pernapasan, dan suara sebelum memulai sesi.
Postur yang baik dilakukan dengan menjaga berat badan tetap seimbang pada kedua kaki, lutut tidak terkunci, dan bahu rileks. Selain itu, latihan napas perut dapat membantu peserta menenangkan diri sebelum berbicara.
Persiapan sederhana tersebut bukan sekadar aktivitas pembuka. Tubuh yang lebih siap dapat membantu pembicara merasa lebih fokus dan membuat suara keluar dengan lebih baik.
Dengan demikian, kesiapan sebelum berbicara menjadi bagian penting dari pelatihan public speaking, terutama ketika peserta harus tampil di depan audiens.
Panggung dan Peran dalam Mengatur Suara
Setelah tubuh siap, suara menjadi bagian berikutnya yang menentukan penyampaian pesan. Peserta mempelajari bagaimana mengatur tempo, memberikan penekanan, dan menggunakan jeda ketika berbicara.
Tempo yang terlalu rata dapat membuat audiens kehilangan fokus. Sebaliknya, tempo dapat diperlambat ketika pembicara menyampaikan informasi penting dan disesuaikan kembali pada bagian yang sudah dipahami audiens.
Jeda juga memiliki fungsi penting. Berhenti sejenak sebelum angka penting atau pesan utama memberikan waktu bagi audiens untuk menangkap informasi yang disampaikan.
Penekanan kata juga dapat mengubah cara audiens memahami sebuah kalimat. Karena itu, pembicara perlu menentukan bagian mana yang harus mendapatkan perhatian lebih.
Panggung dan Peran melalui Bahasa Tubuh
Public speaking tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Bahasa tubuh ikut membantu audiens mengikuti, memahami, dan merespons pesan yang disampaikan.
Dalam materi pelatihan, peserta mempelajari penggunaan posisi tangan, kontak mata, gerakan tubuh, hingga posisi saat duduk dalam sebuah panel. Kontak mata, misalnya, perlu digunakan secara alami agar audiens merasa diperhatikan.
Selain itu, gerakan tubuh sebaiknya mendukung pesan dan tidak dilakukan secara berlebihan. Kebiasaan seperti menyentuh wajah, menyilangkan tangan, atau memainkan benda di tangan juga perlu diperhatikan karena dapat mengganggu penyampaian.
Dengan bahasa tubuh yang konsisten, pembicara dapat menunjukkan sikap yang lebih terbuka, tenang, dan percaya diri.
Kebiasaan Kecil Dapat Memengaruhi Cara Pesan Diterima
Dalam komunikasi, isi pesan bukan satu-satunya hal yang diperhatikan audiens. Cara pesan disampaikan juga dapat memengaruhi penerimaan terhadap pembicara.
Beberapa kebiasaan yang dibahas dalam pelatihan antara lain terlalu sering menggunakan kata pengisi seperti “eh”, “umm”, atau “jadi”, berbicara terlalu cepat tanpa jeda, membaca seluruh isi catatan atau slide, serta menggunakan gerakan yang berlebihan.
Selain itu, pembicara perlu menghindari cara penyampaian yang tidak sesuai dengan karakter audiens. Komunikasi yang efektif membutuhkan keselarasan antara isi pesan, suara, dan bahasa tubuh.
Karena itu, kesadaran terhadap kebiasaan saat berbicara menjadi langkah awal untuk memperbaiki cara berkomunikasi.
Panggung dan Peran dalam Interaksi dengan Audiens
Komunikasi yang baik juga membutuhkan interaksi. Dalam pelatihan, peserta mempelajari beberapa cara untuk melibatkan audiens, seperti pertanyaan terbuka, polling atau angkat tangan, diskusi singkat, dan studi kasus ringan.
Interaksi dapat membuat suasana lebih hidup sekaligus membantu pembicara mengetahui respons audiens. Dengan begitu, pembicara tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun percakapan.
Bagi peserta yang berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam pekerjaan, kemampuan membaca respons audiens menjadi semakin penting. Cara berbicara kepada rekan kerja tentu dapat berbeda dengan cara berkomunikasi dengan media, pemerintah, mitra, atau stakeholder lainnya.
Role Play Menguji Peran dalam Situasi Nyata
Materi Panggung dan Peran tidak berhenti pada penjelasan teori. Peserta juga mengikuti latihan dan role play untuk mempraktikkan cara menjalankan peran dalam sebuah diskusi.
Dalam salah satu latihan, struktur panel terdiri atas moderator, panelis, dan SME. Moderator membuka diskusi, menyampaikan topik, dan memperkenalkan panel. Panelis menyampaikan pesan utama beserta bukti pendukung, sedangkan panelis berikutnya membangun pembahasan dengan menambahkan sudut pandang yang belum disampaikan.
Sementara itu, SME memberikan penjelasan teknis yang dilengkapi analogi sehari-hari agar informasi lebih mudah dipahami. Setelah itu, moderator mengelola pertanyaan dari meja lain dan menutup diskusi dengan mengulang pesan yang paling kuat.
Melalui role play tersebut, peserta tidak hanya belajar apa yang harus dikatakan. Mereka juga belajar kapan berbicara, bagaimana mengambil peran, dan kapan memberikan ruang kepada pembicara lain.
Peserta Aktif dalam Challenge dan Praktik
Salah satu hal yang terlihat dalam pelatihan adalah keterlibatan peserta yang tinggi. Peserta aktif bertanya, mengikuti challenge, dan mencoba berbagai situasi melalui role play.
Aktivitas praktik memberikan kesempatan kepada peserta untuk menguji materi secara langsung. Kesalahan dalam penyampaian juga dapat menjadi bahan evaluasi sehingga peserta mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
Metode seperti ini membuat pelatihan public speaking tidak berhenti pada pemahaman konsep. Peserta mendapatkan pengalaman untuk menerapkan teknik komunikasi dalam situasi yang menyerupai kebutuhan pekerjaan.

Public Speaking untuk Komunikasi Profesional
Kemampuan public speaking menjadi semakin relevan ketika seorang profesional harus menjalankan lebih dari satu fungsi komunikasi. Seseorang dapat menjadi presenter dalam satu kegiatan, moderator dalam forum lain, atau menjadi SME ketika organisasi membutuhkan penjelasan berdasarkan keahliannya.
Karena itu, kemampuan memahami peran membantu pembicara menyesuaikan cara menyampaikan pesan. Pembicara tidak hanya perlu menguasai materi, tetapi juga memahami tujuan forum dan kebutuhan audiens.
Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan Tanoto Foundation yang ingin meningkatkan kemampuan staf dalam menjelaskan program organisasi serta berkomunikasi dengan berbagai pihak eksternal.
Bina Mutu Bangsa Mengembangkan Public Speaking melalui Praktik
Pelatihan bersama Tanoto Foundation menjadi bagian dari upaya Bina Mutu Bangsa dalam mendukung pengembangan kompetensi komunikasi profesional.
Pendekatan yang digunakan memadukan materi dengan praktik melalui diskusi, challenge, latihan, dan role play. Dengan cara tersebut, peserta memiliki ruang untuk menguji kemampuan berbicara sekaligus mendapatkan pengalaman menjalankan berbagai peran komunikasi.
Bina Mutu Bangsa juga memiliki materi lain yang berkaitan dengan komunikasi profesional, termasuk pembahasan mengenai perbedaan public speaking dan presentation skill. Keduanya sama-sama berkaitan dengan komunikasi, tetapi memiliki fokus dan penerapan yang berbeda.
Panggung Berubah, Peran Menentukan
Pada akhirnya, pelatihan public speaking bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara dengan percaya diri. Setiap situasi memiliki panggung dan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
Ketika menjadi presenter, seseorang perlu membuka dan mengarahkan konteks. Saat menjadi moderator, fokusnya adalah menjaga alur diskusi. Panelis perlu menyampaikan sudut pandang dengan jelas, sementara SME perlu memberikan penjelasan berdasarkan keahlian yang dimiliki.
Melalui materi Panggung dan Peran, peserta Tanoto Foundation mendapatkan kesempatan untuk memahami bahwa komunikasi yang efektif membutuhkan kesadaran terhadap peran, audiens, suara, bahasa tubuh, dan interaksi.
Bagi perusahaan, yayasan, maupun organisasi yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi tim, Bina Mutu Bangsa dapat membantu merancang pelatihan public speaking yang disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi komunikasi di lingkungan kerja.
