Pelatihan Chef MBG Bima: Dapur Aman, Rasa Terjaga

Pelatihan penjamah makanan MBG di Bima NTB melatih 30 peserta dari 15 dapur untuk sertifikasi HACCP dan manajemen dapur sesuai standar gizi nasional

Di tengah perubahan regulasi pemerintah yang semakin ketat, dapur-dapur di seluruh Indonesia kini menghadapi tantangan baru: wajib mengikuti pelatihan dan sertifikasi penjamah makanan. Jika tidak, dapur bisa ditutup sementara.

Di sinilah LKP Bina Mutu Bangsa mengambil peran penting, bukan hanya sebagai lembaga pelatihan, tetapi sebagai penjaga standar dan nilai kemanusiaan dalam pelayanan makanan.

Pemerintah menetapkan bahwa setiap dapur operasional harus memiliki penjamah makanan yang tersertifikasi. Dapur MBG merespons cepat dengan menyelenggarakan pelatihan Food Product (Chef) dan HACCP di Bima, Nusa Tenggara Barat. Tujuannya bukan hanya memenuhi regulasi, tetapi juga membangun budaya dapur yang aman, sehat, dan penuh tanggung jawab.

Pelatihan berlangsung selama dua hari, pada 25–26 Oktober 2025, dengan dua lokasi utama:

  • Kelas Teori: Gedung Perpustakaan Kota Bima
  • Kelas Praktik: MBG Maria 3, Jalan Lintas Bima Sape, Desa Kambilo, Kecamatan Wawo.

Suasana pelatihan terasa hangat dan kolaboratif, meski diwarnai semangat disiplin tinggi. Sebanyak 30 peserta dari 15 dapur MBG hadir, terdiri dari pemilik dan kepala dapur yang mendaftar secara mandiri.

Mereka datang dengan satu tujuan: memastikan dapur mereka tetap beroperasi dan mampu menyajikan makanan yang aman dan bergizi.

  • Hari Pertama: Peserta mengikuti teori manajemen dapur MBG dan sertifikasi HACCP secara online melalui portal Kemdikbud/Kemdikdasmen.
  • Hari Kedua: Praktik intensif dilakukan dalam 6 kelompok, masing-masing berisi 5 orang. Mereka memasak menu bebas yang terdiri dari ayam, udang, tahu, tempe, sayur, dan buah, dengan gramasi mengikuti standar gizi dari BGN.
    Setiap kelompok menunjukkan kreativitas dan kedisiplinan dalam menyusun menu, menjaga sanitasi, dan menyajikan makanan dengan estetika yang menggugah selera.

Banyak peserta mengaku bahwa pelatihan ini bukan hanya soal sertifikasi, tapi juga soal kebanggaan. “Kami ingin dapur kami tidak hanya lolos regulasi, tapi juga menjadi tempat yang sehat dan membahagiakan,” ujar salah satu kepala dapur.

BGN berharap pelatihan ini menjadi model bagi dapur-dapur lain di daerah. Dengan pendekatan yang humanis dan berbasis komunitas, pelatihan penjamah makanan bisa menjadi gerakan nasional untuk menjadikan dapur sebagai ruang pelayanan, bukan sekadar produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Customer Support
Butuh Bantuan?
Hi, Ada yang bisa kami bantu?
Powered by